Kamis, 23 Juni 2016

Tradisi Mebat

Mebat utawi Ngebat adalah tradisi kebersamaan laki-laki Bali dalam penyelenggaraan persiapan hidangan - hidangan untuk upacara keagamaan, perkawinan, ngaben, dll. Biasanya warga berkumpul untuk membawa sebuah pisau agak besar yang dinamakan blakas / golok untuk proses mebat dan waktu pelaksanaan mebat biasanya pada hari H dini hari.
Dalam proses mebat ada dua tahapan yang dilakukan yaitu pembuatan bumbu dan pengolahan hidangan ( memasak ). Pembuatan bumbu biasanya di sehari sebelum hari H dimana warga laki - laki akan membuat bumbu ( base gede ) dari bahan - bahan di bawah ini :
Bahan base gede
1. Lengkuas 1/4 dari jahe
2. Jahe 1 Kg
3. Kunyit  1/4 dari kencur
4. Kencur 1/2 dari jahe
5. Bawang Merah 1/2 dari jahe
6. Bawang Putih 1/2 dari bawang merah
7. Merica secukupnya
8. Ketumbar secukupnya
9. Cabe merah kecil 1/2 dari bawang merah
10. Daun Ginten 2 lembar
11. Terasi secukupnya
12. Daun jangan ulam 5 lembar
13. Sere satu ikat
Cara membuatnya :
1. Semua bahan dibersihkan dan dicuci dengan air (tanpa sabun)
2. Semua bahan dipotong (ditektek) hingga halus dengan pisau besar (blakas)
3. Setela halus ditumbuk denggan lesung sampai lembut
4. Jika mau langsung dipakai boleh mentah, diisi dengan minyak kelapa sedikit
5. Jika akan dipakai dalam waktu lama, goreng bumbu tersebut menggunakan minyak kelapa sampai matang
6. Setelah setengah matang lalu diangkat dan didinginkan.
Pada hari H hari ( sekitar jam 3 pagi ) proses persiapan pembuatan hidangan dilaksanakan yang menghabiskan waktu sampai 5 jam untuk memasak mengolah daging ( Daging babi). Dan bahwasanya jenis hidangan/olah-olahan yang terdapat dalam upacara adat Agama Hindu khususnya di Pulau Bali dapat dibeda-bedakan dalam tiga jenis seperti:
Jenis olahan kering, dalam jenis ini kita dapati bentuk seperti :
Sesate, Gorengan, Brengkes, Urutan, Lempet.
Jenis Olahan yang Lembab, dalam jenis ini kita dapati bentuk seperti :
Lawar, Tum, Balung, Timbungan, Oret, pademare.
Jenis Olahan yang Cair, dalam jenis ini kita dapati dalam bentuk :
kekomoh, Ares.
Dalam rangkaian mebat ada seorang chef yang disebut dengan Belawa. Tugas Belawa ini adalah memastikan bahwa bumbu yang dibuat sesuai dengan daging yang diolah. Selain itu juga ia harus membuat olahan / hidangan apa saja yang harus di buat agar sesuai dengan daging yang ada. Serta memastikan kwantiti dan kwalitas rasa hidangan agar para undangan maupun orang yang menikmati hidangan merasa puas.
Sesuai dengan ageman lontar dharma caruban sebagai pedoman yang telah digunakan oleh para leluhur kita dari jaman dahulu disebutkan: Hendaknya beburon termasuk perlengkapan lain sebagai bahan olahan sebelumya didoakan terlebih dahulu agar dengan hati suci, semoga jiwa raganya mendapat kemajuan ketempat yg lebih tinggi.


Jumat, 27 Mei 2016

Le Mayeur

Adrien-Jean Le Mayeur de Merpres (lahir di Brusel, 9 Februari 1880 – meninggal di Ixelles, 31 Mei 1958 pada umur 78 tahun). Ia adalah seorang keturunan bangsawan dari Belgia dan mewarisi darah seni dari orang tuanya. Pendidikan terakhirnya adalah insinyur bangunan di Universitas Libre, Brussel. Lantaran dilarang mengembangkan bakat melukisnya, Le Mayeur nekat meninggalkan keluarganya dan berkeliling dunia. Ia tiba di Singaraja, Bali dengan perahu pada tahun 1932. Tak lama kemudian, ia melanjutkan perjalanan ke Denpasar dan mulai menetap di Pantai Sanur. Mulanya Le Mayuer berencana berkunjung selama delapan bulan, akan tetapi menyaksikan keindahan alam serta kecantikan para penari Bali, Le Mayeur terbetik untuk mendirikan rumah dan sanggar melukis di tepi Pantai Sanur. Seorang penari legong bernama Ni Nyoman Pollok yang menjadi model lukisannya menarik hati Le Mayeur untuk mempersuntingnya. Mereka kemudian menikah.
Kisah kehidupan dua seniman ini sebetulnya cukup mengharukan. Melalui pernikahan dengan Le Mayeur, Ni Pollok sebenarnya ingin memiliki keturunan. Tetapi keinginan itu ditolak oleh sang suami. Alasannya, Ni Pollok adalah model lukisan. Keindahan tubuh Ni Pollok dikhawatirkan rusak apabila hamil dan melahirkan. Pasangan seniman ini tidak dikaruniai keturunan hingga akhir hidupnya.
Le Mayeur menyewa sebuah rumah di banjar Kelandis, Denpasar, tempatnya berkenalan dengan penari legong Ni Nyoman Pollok yang berusia 15 tahun, yang kemudian menjadi model lukisannya.
Sejumlah karya Le Mayeur yang menggunakan Ni Pollok sebagai model dipamerkan di Singapura untuk pertama kalinya pada tahun 1933, yang kemudian sukses dan iapun terkenal. Kembali dari Singapore, Le Mayeur membeli sepetak tanah di Pantai Sanur dan membangun rumah. Di rumah yang menjadi studio ini, Ni Pollok bekerja tia p hari sebagai model bersama 2 sahabatnya. Kecantikan dan kepribadian Ni Pollok membuat Le Mayeur menikmati rumah barunya di Bali. Awalnya, ia hanya akan tinggal selama 8 bulan, namun kemudian ia memutuskan untuk tinggal di pulau itu sampai akhir hayatnya.
Setelah 3 tahun bekerja bersama, pada tahun 1935, Le Mayeur dan Ni Pollok menikah. Sepanjang kehidupan pernikahannya, Le Mayeur tetap melukis dengan menggunakan istrinya sebagai model.
Para pencinta lukisan tentu tidak bakal kesulitan untuk menilai, bahwa karya-karya lukis Le Mayeur adalah bergaya impresionis. Kehidupan kontemporer Bali saat itu serta pemandangan di alam terbuka banyak dijadikan objek lukisan oleh Le Mayeur. Sapuan kuas Le Mayeur menciptakan kesan bersemangat gadis-gadis Bali yang cantik-cantik dan muda belia. Objek ini memang salah satu yang paling diminati Le Mayeur. Lukisan-lukisan Le Mayeur di sisi lain juga terlihat begitu alamiah, karena kegemaran dia menggunakan warna-warna murni dan cerah mengacu apa yang disaksikannya langsung. Di antara yang terpopuler dari karya Le Mayeur adalah lukisan-lukisan berobjek seorang gadis Bali bertubuh molek dan tampil bertelanjang dada. Siapakah dia? Obyek lukisan itu tidak lain adalah Ni Nyoman Pollok, seorang penari Legong Kraton, yang belakangan menjadi istri sang maestro, Dilahirkan di Kelandis, 31 Mei 1917, Ni Pollok mulai dijadikan model dalam lukisan-lukisan Le Mayeur pada usia 15 tahun. “Keluwesan gerakan tari serta kecantikan wajah Ni Pollok memikat hati Le Mayeur. Ia kemudian meminta izin pada sekehe (sanggar, Red) agar salah satu penarinya, yakni Ni Pollok, agar diperbolehkan dijadikan model lukisan.
Ketenaran Le Mayeur makin lama makin meningkat. Hal ini terbukti dengan banyaknya kunjungan-kunjungan dan bahkan dari pejabat tinggi negara seperti Presiden RI pertama Ir. Soekarno, Perdana Menteri India Pandir Jawaharlal Nehru dan lain-lain. Pada tahun 1956 Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan RI yaitu Bahder Djohan berkunjung ke rumah Le Mayeur. Beliau sangat terkesan dengan karya seni Le Mayeur, dan mencetuskan gagasan untuk menjadikan rumah tinggal Le Mayeur sebagai museum agar karya seninya dapat dilestarikan. Gagasan ini disambut baik oleh Le Mayeur maka pada tanggal 28 Agustus 1957 dengan akte hadiah nomor 37 Lke Mayeur menghadiahkan hak miliknya kepada Ni Pollok dan pada hari yang sama Ni Pollok sebagai pewaris selanjutnya mempersembahkan kepada Pemerintah Indonesia berdasarkan akte hadiah nomor 38.
Melalui sebuah surat wasiat yang ditulis pada 1957, disepakati bahwa apabila pasangan Le Mayeur-Ni Pollok telah wafat, maka rumah mereka di Pantai Sanur akan diserahkan kepada pemerintah RI sebagai museum. Kesepakatan itu dicapai dari hasil kunjungan Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan, Bahder Djohan, yang pada 1957 ditugasi Bung Karno bertemu dengan Le Mayeur untuk menyampaikan usulan agar rumahnya yang di Jl.Hang Tuah kelak dapat dijadikan sebagai museum.
Pada awal tahun 50-an, kondisi kesehatan Le Mayeur mulai menurun di karenakan beliau menderita kanker telinga dan pada bulan Maret 1958 Le Mayeur berobat ke Belgia didampingi istrinya. Pada tanggal 27 Mei 1958 Le Mayeur Sang Maestro yang berusia 78 tahun itu meninggal dunia dan jenasahnya dimakamkan di pemakaman keluarga Ixelles, Brussel. Pengelolaan selanjutnya dilakukan oleh Ni Pollok. Pada tanggal 27 Juli 1985 Ni Pollok meninggal dunia, maka perusahaan seni lukis ditinggalkannya kini milik Pemerintah Indonesia yang dikelola oleh Pemerintah Daerah Propinsi Bali. Rumah beserta isinya sekarang menjadi Museum Le Mayeur.
Sebelum ia meninggal dunia pada 27 Juli 1985. Sebuah monumen yang berhiaskan patung Le Mayeur dan Ni Pollok dibangun tepat di samping rumah tersebut. Di rumah inilah, kini kita masih bisa menyaksikan karya-karya tak ternilai Le Mayeur. Usia yang tua hingga tingginya kelembapan udara di pinggir pantai tak urung membikin lukisan-lukisan Le Mayeur kian terancam. Media lukis yang terbuat dari bagor terlihat jelas mulai merapuh. Media lukis selain kanvas dipakai Le Mayeur pada tahun 1942 saat pendudukan Jepang. Akibat perang, pengiriman kanvas dari Belgia terhenti. Nah, untuk menjaga ke- awetannya, lukisan-lukisan itu direstorasi secara berkala oleh para pakar dari Galeri Nasional, Jakarta.
Karya lukis Le Mayeur mencapai 88 buah, umumnya memiliki ciri impresionis, dan dibuat antara tahun 1921 sampai 1957. Uniknya, karya-karya tersebut beberapa di antaranya menggunakan media lukis selain kanvas, misalnya hardboard, tripleks, kertas, dan bagor atau kain goni. Media lukis kain goni, misalnya, digunakan oleh Le Mayeur pada masa penjajahan Jepang karena kesulitan mendapatkan kiriman kanvas dari Belgia.
Koleksi utama museum Le Mayeur adalah berupa 88 buah lukisan karya maestro terkenal berkebangsaan Belgia yaitu Andrien Jean Le Mayeur de Merpres dengan aliran/gaya impresionis. Dari 88 buah lukisan tersebut:
04 buah dibuat pada tahun 1921,
04 buah dibuat pada tahun 1927,
03 buah dibuat pada tahun 1928,
28 buah dibuat pada tahun 1929,
03 buah dibuat pada tahun 1930,
14 buah dibuat pada tahun 1938,
23 buah dibuat pada tahun 1942, dan
10 buah dibuat pada tahun 1957, 47 lukisan mengambil tema Bali, sedangkan bahan yang digunakan adalah sebagai berikut;
28 buah diatas kanvas,
25 buah diatas hand board,
06 buah diatas tripleks,
07 buah diatas kertas dan
22 buah diatas Bagor/ kain goni
Le Mayeur dikenal sebagai salah seorang pelukis yang mengangkat keindahan panorama alam, ekspresi budaya, serta kecantikan perempuan Bali ke dalam kanvas. Di dalam museum ini, pengunjung dapat menikmati karya-karya lukisan serta benda-benda bersejarah peninggalan Le Mayeur seperti kursi, meja berukir, ranjang, lemari, jambangan bunga dari keramik, peralatan dari perak, guci, buku-buku, serta patung.

Sabtu, 21 Mei 2016

Tradisi megibung di Bali

Tradisi megibung di Bali
Setelah usai upacara adat, beberapa kelompok orang duduk bersila dan membentuk lingkaran. Di tengah lingkaran terhidang gundukan nasi beserta lauk pauk di atasdulang (alas makan dari tanah liat atau kayu) yang telah dilapisi tamas (anyaman daun kelapa). Namun sekarang acara megibung jarang menggunakan dulang, diganti dengan nampan atau wadah lain yang dialasi daun pisang atau kertas nasi. Mereka makan sesuap demi sesuap dengan tertib. Acara makan diselingi obrolan-obrolan ringan. Inilah budaya makan ala Karangasem, Bali, yang disebut megibung.
Arti Megibung adalah suatu proses atau kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat atau sekelompok orang duduk bersama  saling berbagi satu sama lain, terutama dalam hal makanan. Megibung merupakan tradisi makan bersama dalam satu wadah yang dimiliki oleh masyarakat Karangasem Bali, tradisi megibung atau makan bersama dalam satu wadah ini juga dikenal dengan sebutan Bancakan.Dalam tradisi unik megibung ini semua peserta berbaur tanpa memandang status sosial ataupun kasta. Megibung bukanlah upacara adat melainkan kebiasaan atau tradisi masyarakat di kabupaten Karangasem. Megibung dapat juga diartikan sebagai makan bersama.
Megibung  kini telah menjadi  tradisi turun- menurun yang dilaksanakan oleh warga karangasem. Megibung merupakan tradisi kuno warisan Kerajaan Karangasem, Bali. Tradisi ini diciptakan untuk meningkatkan rasa kebersamaan warga.
Tradisi megibung dimulai dari tahun 1614 Caka (atau 1692 Masehi), ketika salah satu Raja Karangasem, I Gusti Anglurah Ktut Karangasem, berperang menaklukkan kerajaan-kerajaan di Sasak (Lombok). Di kala para prajurit istirahat makan, beliau membuat aturan makan bersama dalam posisi melingkar dan sang raja pun ikut berbaur dengan para prajurit yang lain. Hingga saat ini tradisi megibung masih dilaksanakan di Karangasem dan Lombok, dan menjadi kebanggaan masyarakat setempat. Kini, megibung sering digelar berkaitan dengan berbagai jenis upacara adat dan agama (Hindu), seperti upacara potong gigi, otonan anak, pernikahan, ngaben, pemelaspasan, piodalan di Pura.
Megibung biasanya terdiri dari lebih dari satu sela, bahkan puluhan sela. Setiap sela dipimpin oleh pepara, orang yang dipercaya dan ditugasi menuangkan lauk-pauk di atas gundukan nasi secara bertahap. Setiap satu sela biasanya mendapatkan lauk pauk dan sayuran yang terdiri dari pepesan daging, urutan (sosis), sate oles (lemak), sate pusut (daging isi), sate pontang (sate isi dan lemak), lawar merah dan putih, sayur daun belimbing, pademara, timbungan (rawon) dan sayur urap.
Satu porsi nasi gibungan (nasi dan lauk pauk) yang dinikmati oleh satu kelompok disebut satu sela. Pada jaman dulu satu sela harus dinikmati oleh delapan orang. Kini satu sela bisa dinikmati oleh kurang dari delapan orang, seperti 4-7 orang. Ketika makan, masing-masing orang dalam satu sela harus mengikuti aturan-aturan tidak tertulis yang telah disepakati bersama.
Orang-orang yang megibung harus mengikuti tata tertib dan aturan makan yang ketat. Sebelum dimakan, nasi diambil dari nampan dengan cara dikepal memakai tangan. Kemudian dilanjutkan dengan mengambil daging dan lauk-pauk lainnya secara teratur. Sisa makanan dari mulut tidak boleh berceceran di atas nampan. Harus dibuang di atas sebidang kecil daun pisang yang telah disediakan untuk masing-masing orang. Air putih untuk minum disediakan di dalam kendi dari tanah liat. Untuk satu sela disediakan dua kendi. Minum air dilakukan dengan nyeret, air diteguk dari ujung kendi sehingga bibir tidak menyentuh kendi. Untuk kepraktisan, kini air kendi diganti dengan air mineral kemasan. Di beberapa tempat, selesai megibung biasanya dilanjutkan dengan acara minum tuak. Selesai makan, orang tidak boleh meninggalkan tempat tetapi menunggu orang atau sela lain menyelesaikan makannya secara bersama.
Persiapan untuk acara megibung ini untuk di Bali dikerjakan bersama secara gotong royong oleh warga banjar, tetangga atau undangan terdekat. Biasanya dikerjakan sejak sehari sebelum hari H. Dari menangkap babi atau ayam, diteruskan membuat bumbu, lanjut mengerjakan sampai selesai pada hari H tersebut. Yang dibuat jenis-jenis lauk pauk tersebut diantaranya: lawar barak (merah), lawar putih, kekomoh, padamara, kacang-kacang, marus, urutan, sate, timbung (rawon), balah dll. Satenya juga banyak macam seperti sate lembat, pusut, oles, pontang dan obob. Setelah seluruhnya selesai, diatur pada satu tempat gelaran (anyaman daun kelapa muda) sedemikian rupa lengkap segala jenis tersebut di atas serba sedikit untuk porsi 8 orang laki-laki atau 10 orang wanita. Jumlah satenya biasanya 15 sampai 20 tangkai. Satu gelaran atau satu porsi ini bernamakan KARANGAN. Ada juga diantaranya bertugas memasak nasi, nasi diatur menjadi gibungan. Gibungan dimaksud adalah nasi seberat satu kilogram diatur diatas gelaran, dialasi dengan nampan, nare atau baki, ada juga yang memakai dulang dimana pada pinggirnya  ditaruh garam atau sambal secukupnya. Pada hari H apabila segala persiapan telah selesai, mulai pukul sembilan acara megibung digelar, kadang kala kalau tamu banya acara ini digelar sampai 3 atau 4 periode, dimana satu periode samapai 20 sela (gibung/rombongan). Gibungan diatur penempatannya berbaris, dibedakan tempat untuk tamu wanita dan laki-laki. Di sebelah masing-masing gibungan tersebut juga disiapkan karangan, air cuci tangan, kendi tempat air minum. Demikianlah apabila personilnya telah lengkap masing-masing  para tamu dipersilahkan untuk cuci tangan lanjut bersantap. Salah seorang dari masing-masing sela tersebut bertugas sebagai tukang pepara (menaikan lauk ke atas gibungan). Demikianlah acara megibung ini berlangsung penuh disiplin. Para pengayah (peladen) yang membawa tambahan air, nasi dll sibuk meladeni para tamu yang sedang bersantap. Acara megibung ini berlangsung sekitar lima belas menit atau lebih. Apabila para tamu telah selesai santap (mereka biasanya bengong saling tunggu) maka tuan rumah atau yang mewakili mempersilahkan untuk cuci tangan lanjut bubaran. Mereka(para tamu) mencari tempat duduk di tempat lain untuk basa basi dengan tuan rumah akhirnya mohon ijin untuk pamitan. Sudah tentu tuan rumah menjawab dengan ucapan terima kasih serta mohon maaf atas segala kekhilafan dan kekurangannya
Aturan dalam Megibung :
1. Orang paling tua atau Tetua yang  bertugas membagikan makanan pada saat Megibung
2. Tidak boleh mengambil makanan orang di sebelah kita .
3. Jangan menjatuhkan sisa makanan kita makan di atas wadah Megibung .
4. Membagi lauk atau daging jangan menggunakan mulut .
5. Terdapat urutan dalam membagikan lauk pada saat Megibung seperti contoh sayur sebagai pembuka dan terakhir adalah sate.
Filosofi dari tradisi megibung
Satu gibungan dikitari oleh 8 orang dengan duduk bersila di setiap penjuru mata angin mengingatkan kita pada sembilan penjuru mata angin yaitu Utara, Timur Laut, Timur, Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat dan Barat Laut di tambah di tengah. Dalam ajaran Hindu kesembilan mata angin tersebut dijaga oleh para Dewata yang disebut Dewata Nawa Sanga menciptakan keseimbangan dan keharmonisan bhuana (dunia). Seperti apa yang tersurat dalam lontar Lebur Sanga menguraikan sebagai berikut: ada sembilan linggih para dewata yang disebut dewata nawa sanga yaitu di Utara (uttara) berstana Ida Bhatara Wisnu, di Timur (Purwa) berstana Ida Bhatara Iswara, di Selatan (Dhaksina) berstana Ida Bhatara Brahma, di Barat (Pascima) berstana Ida Bhatara Mahadewa, di Barat laut (Wayabiya) berstana Ida Bhatara Asankara, di Timur Laut (Ersaniya)  berstana Ida Bhatara Shambu, di Tenggara (Gneyan) berstana Ida Bhatara Maheswara, di Barat Daya (Neriti) berstana Ida Bhatara Ludra, sedangkan di Tengah berstana Ida Bhatara Siwa.
Acara megibung merupakan aktualisasi dan pengejawantahan dari filosopi di atas. Dalam hal ini manusia bukan bermaksud amada-mada dewata namun yang terpenting sebagai manusia harus selalu ingat dan meresapi filosopi dewata nawa sanga tersebut guna menciptakan keseimbangan hidup.
Dan yang lebih penting lagi bahwa megibung mengandung pendidikan moral bernilai tinggi seperti pendidikan etika, tata tertib, sopan santun, kesabaran, memupuk rasa kebersamaan dan kekeluargaan, salaing menghargai. Betapa tidak, apabila ada diantaranya yang mendahului cuci tangan, mendahului makan atau bangun tanpa mempedulikan yang lain, sudah dianggap tidak mengenal etika dan sopan santun. Demikian pula dari segi kebersamaan, kekeluargaan dan saling menghargai, hal ini akan dapat terpupuk dengan baik. Dalam satu sela (satu rombongan) makan megibung yang terdiri dari 8 orang yang bukan saudara, kadangkala tidak saling mengenal. Hal ini mungkin terjadi karena sama-sama menghadi satu undangan seseorang yang melaksanakan satu upacara atau agama. Perkenalanpun terjadi bahkan dilanjutkan dengan saling memaparkan pengalaman masing-masing secara sepintas sebagai basa-basi. Betapa tinggi nilai filosopi dan pendidikan budi pekerti yang dikandung dalam acara atau tradisi magibung tersebut.
Demikanlah sekelumit tentang tradisi megibung di Bali yang mengandung pendidikan moral dan etika yang perlu dilestarikan demi memperkaya khasanah budaya dan adat istiadat bangsa Indonesia. Semoga.

Rabu, 11 Mei 2016

Budaya Tari Barong Bali dalam pariwisata di Bali

Tari Barong merupakan satu dari begitu banyak bentuk seni yang ada di Bali. Tarian Barong ialah sebuah tari tradisional yang biasa ditandai dengan adanya topeng hewan berkaki empat yang besar dan kostumnya dikenakan oleh satu hingga dua orang. Tarian ini merupakan peninggalan kebudayaan pra-Hindu dan bercerita tentang hal paling klise, yaitu pertentangan antara kebaikan dan kejahatan. Sepanjang sejarah tari Barong Bali, pihak yang baik selalu digambarkan dengan sosok Barong dan pihak jahat juga selalu digambarkan dengan sama, yaitu Rangda, sebuah sosok mirip wanita menyeramkan yang memiliki dua buah taring besar di mulutnya.
Ada pandangan yang berbeda tentang sejarah tari Barong Bali ini, dimana salah satu pandangan menyatakan bahwa tari Barong merupakan sebuah seni yang sudah sejak lama ada di Indonesia, sebuah kesenian bawaan dari masyarakat Austronesia. Pandangan ini juga memberitakan bahwa kisah yang dimainkan dalam tari Barong merupakan kisah tentang Bhatara Pancering Jagat dan istrinya yang bernama Ratu Ayu Pingit Dalem Dasar. Pandangan lainnya tentang Barong muncul dari itihasa Bali dimana tari Barong muncul dari cerita suci dan bukan dongeng. Dipercaya kisah tentang Barong dan Rangda ini berkaitan dengan cerita ketika Siwa mencari Dewi Uma.
Kali pertama dalam sejarahnya tari Barong Bali dijadikan pertunjukkan adalah pada abad ke-19 dimana pada saat itu Raja Kelungkung yang memiliki nama atau julukan Ida I Dewi Agung Sakti meminta diadakannya pertunjukkan yang bentuknya adalah wayang orang dengan total penari sekitar 36 orang dimana sebagian dari penari tadi harus berperan sebagai pasukan dari seekor raja kera dan sebagian lagi berperan sebagai pasukan rahwana. Para penari ini kemudian diharuskan mengenakan topeng dan busana yang terbuat dari serat yang bernama braksok. Saking populernya, pertunjukkan tersebut kemudian diberi nama Barong Kadingkling atau Barong Blasblasan yang jika berkunjung ke suatu desa, diyakini pohon kelapa yang ada di desa tersebut menjadi amat sangat subur.
Gaya hidup masyarakat Bali diungkapkan dalam tarian mereka. Tidak hanya kita belajar tentang agama orang Bali dari kreasi tarian mereka, tetapi juga kita dapat memahami aliran kegiatan budaya dan kegiatan-kegiatan yang termasuk dalam kehidupan sehari-hari. Esensi dari budaya Bali adalah tari dan drama, yang diadakan selama festival kuil dan dalam upacara-upacara. Tarian dilakukan di hotel-hotel adalah sebagian kecil dari apa yang tari Bali yang ditawarkan. Tari Bali berjalan jauh ke belakang sejarah Bali yang ditulis dengan banyak warisan yang berasal dari Jawa.Tari memenuhi sejumlah fungsi tertentu: Ini mungkin sebuah saluran untuk mengunjungi dewa-dewa atau setan, para penari bertindak sebagai semacam hidup repositori. Ini mungkin sebagai selamat datang untuk mengunjungi para dewa. Di bali, banyak sekali kebudayaan yang kita ketahui, salah satunya adalah tarian. Tarianpun banyak macamnya. salah satunya adalah tari barong. Barong merupakan sebuah karakter daam mitoogi Bali. Barong adalah raja dari roh dan melambangkan kebaikan. Dalam sebuah pertunjukkan biasanya barong sering ditampilkan sebagai seekor singa. Tari barong menceritakan sebuah pertarungan antara yang baik dan jahat. Tarian ini adalah contoh klasik dari daerah Bali yang menghasilkan sebuah mitos dan sejarah yang tercampur menjadi satu kenyataan. Barong adalah binatang purbakala melukiskan kebajikan dan Rangda adalah binatang purbakala yang maha dahsyat menggambarkan kebatilan.
Urutan dalam Tari Bali :
Gending Pembukaan: Barong dan kera sedang berada di dalam hutan yang lebat. Kemudian muncullah tiga orang yang bertopeng menggambarkan tiga orang yang sedang membuat tuak ditengah-tengah hutan, yang mana anaknya telah dimakan oleh harimau. Ketiga orang itu sangat marah dan menyerang harimau : (Barong) itu dan dalam perkelahian ini hidung salah seorang dari ketiga orang itu digigit oleh kera.
Babak Pertama : Dua orang penari muncul dan mereka adalah pengikut-pengikut Rangda sedang mencari pengikut Dewi Kunti yang sedang dalam perjalanan untuk menemui patihnya.
Babak Kedua : Pengikut-pengikut Dewi Kunti tiba. Salah seorang dari pengikut Rangda berubah rupa menjadi setan (semacam Rangda) dan memasukkan roh jahat kepada pengikut Dewi Kunti yang menyebabkan mereka bisa menjadi marah. Keduanya menemui Patih dan bersama sama menghadap Dewi Kunti.
Babak ketiga : Muncullah Dewi Kunti dan anaknya Sadewa dan Dewi Kunti telah berjanji kepada Rangda untuk menyerahkan Sadewa sebagai korban. Sebenarnya Dewi Kunti tidak sampai hati mengorbankan anaknya Sadewa kepada Rangda tetapi setan (semacam Rangda) memasukkan roh jahat kepadanya yang menyebabkan Dewi Kunti bisa menjadi marah dan tetap berniat mengorbankan anaknya kepada Patihnya untuk membuang sadewa kedalam hutan dan patih inipun tidak luput dari kemauskan roh jahat oleh setan itu sehingga sang Patih dengan tiada perasaan kemanusiaan menggiring Sadewa kedalam hutan dan mengikatnya dimuka Isatana Sang Rangda.
Babak keempat: Turunlah Dewa Siwa memberikan keabadian hidup kepada Sadewa dan kejadian ini tidak diketahui oleh Rangda. Kemudian datanglah Rangda untuk mengoyak-ngoyak dan membunuh Sadewa tetapi tidak dapat dibunuhnya karena kekebalan yang dianugrahkan oleh Dewa Siwa. Rangda menyerah kepada Sadewa dan memohon untuk diselamatkan agar dengan demikian dia bisa masuk sorga. Permintaan ini dipenuhi oleh Sadewa. Sang Rangda mendapat Sorga.
Babak kelima: Kelika salah seorang pengikut Rangda mengahadap kepada Sadewa untuk diselamatkan juga tetapi ditolah oleh Sadewa. Penolakan ini menimbulkan perkelahian dan Kalika berubah rupa menjadi babi hutan dan didalam pertarungan menjadi burung tetapi tetap dikalahkan. Dan akhirnya kalika (Burung) berubah rupa lagi menjadi Rangda. Oleh karena saktinya Rangda ini maka Sadewa tidak dapat membunuhnya dan akhirnya Sadewa berubah menjadi Barong karena sama saktinya maka pertarungan antara Barong melawan Rangda ini tidak ada yang menang dan dengan demikian pertaruangan dan perkelahian ini berlansung terus abadi. Kebajikan melawan kebatilan. Kemudian mundullah pengikut pengikut Barong masing masaing dengan kerisnya yang hendak menolong Barong dalam pertarungan melawan Rangda. Mereka ini semuanya pun tidak berhasil melumpuhkan kesaktian Sang Rangda.
Ada beberapa jenis Tari Barong yang biasa ditampilkan di Pulau Bali, di antaranya Barong Ket, Barong Bangkal (babi), Barong Macan, Barong Landung. Namun, di antara jenis-jenis Barong tersebut yang paling sering menjadi suguhan wisata adalah Barong Ket, atau Barong Keket yang memiliki kostum dan tarian cukup lengkap.
Kostum Barong Ket umumnya menggambarkan perpaduan antara singa, harimau, dan lembu. Di badannya dihiasi dengan ornamen dari kulit, potongan-potongan kaca cermin, dan juga dilengkapi bulu-bulu dari serat daun pandan. Barong ini dimainkan oleh dua penari (juru saluk/juru bapang): satu penari mengambil posisi di depan memainkan gerak kepala dan kaki depan Barong, sementara penari kedua berada di belakang memainkan kaki belakang dan ekor Barong.
Secara sekilas, Barong Ket tidak jauh berbeda dengan Barongsai yang biasa dipertunjukkan oleh masyarakat Cina. Hanya saja, cerita yang dimainkan dalam pertunjukan ini berbeda, yaitu cerita pertarungan antara Barong dan Rangda yang dilengkapi dengan tokoh-tokoh lainnya, seperti Kera (sahabat Barong), Dewi Kunti, Sadewa (anak Dewi Kunti), serta para pengikut Rangda.
Macam-macam Tari Barong Bali :
1. Barong Bangkal
Bangkal artinya babi besar yang berumur tua, oleh sebab itu Barong ini menyerupai seekor bangkal atau bangkung, Barong ini biasa juga disebut Barong Celeng atau Barong Bangkung. Umumnya dipentaskan dengan berkeliling desa (ngelelawang) oleh dua orang penari pada hari-hari tertentu yang dianggap keramat atau saat terjadinya wabah penyakit menyerang desa tanpa membawakan sebuah lakon dan diiringi dengan gamelan batel / tetamburan
2.  Barong Landung
Barong Landung adalah satu wujud susuhunan yg berwujud manusia tinggi mencapai 3 meter. Barong Landung tidak sama dengan barong ket yg sudah dikomersialisasikan. Barong Landung lebih sakral dan diyakini kekuatannya sebagai pelindung dan pemberi kesejahteraan umat. Barong Landung banyak dijumpai disekitar Bali Selatan, seperti Badung, Denpasar, Gianyar, Tabanan.
3.  Barong Macan
Sesuai dengan namanya, Barong ini menyerupai seekor macan dan termasuk jenis barong yang terkenal di kalangan masyarakat Bali. Dipentaskannya dengan berkeliling desa dan adakalanya dilengkapi dengan suatu dramatari semacam Arja serta diiringi dengan gamelan batel.
4.  Barong Ket
Barong Ket atau Barong Keket adalah tari Barong yang paling banyak terdapat di Bali dan paling sering dipentaskan untuk kebutuhan pariwisata serta memiliki pebendaharaan gerak tari yang lengkap. Dari wujudnya, Barong Ket ini merupakan perpaduan antara singa, macan, sapi atau boma. Badan Barong ini dihiasi dengan ukiran-ukiran dibuat dari kulit, ditempel kaca cermin yang berkilauan dan bulunya dibuat dari perasok (serat dari daun sejenis tanaman mirip pandan), ijuk atau ada pula dari bulu burung gagak.
5. Barong Gajah
Barong Gajah tentu saja menyerupai Gajah. Barong ini ditarikan oleh dua orang. Karena barong ini termasuk jenis yang langka dan dikeramatkan, masyarakat Bali pun jarang menjumpai barong jenis ini. Sekali waktu, pada saat-saat khusus, barong ini dipentaskannya secara ngelewang dari pintu ke pintu berkeliling desa dengan iringan gamelan batel atau tetamburan. Barong Gajah terdapat di daerah Gianyar, Tabanan, Badung dan Bangli.
6. Barong Asu
Barong Asu menyerupai anjing. Sama seperti Barong Gajah, Barong Asu juga termasuk jenis barong yang langka. Barong ini hanya terdapat di beberapa desa di daerah Tabanan dan Badung. Biasanya dipentaskan dengan berkeliling desa (ngelelawang) pada hari-hari tertentu dengan iringan gamelan batel atau tetamburan atau Balaganjur.
7. Barong Brutuk
Barong Brutuk termasuk jenis tarian langka yang ditarikan hanya pada saat-saat khusus. Barong ini memiliki bentuk yang lebih primitif dibandingkan dengan jenis barong Bali yang lain.
8. Barong Kedingling
Barong Kedingkling disebut juga Barong Blasblasan. Ada juga yang menyebutnya barong Nong nong Kling. Secara bentuk, barong jenis ini berbeda jauh dengan barong jenis lainnya. Barung ini lebih menyerupai kostum topeng yang masing-masing karakter ditarikan oleh seorang penari. Tokoh-tokoh dalam barong Kedingkling persis dengan tokoh-tokoh dalam Wayang Wong. Saat menari, cerita yang dibawakannya pun adalah lakon cuplikan dari cerita Ramayana terutama pada adegan perangnya. Pementasan barong kedingkling ini biasanya dilakukan dengan ngelawang dari rumah ke rumah berkeliling desa pada perayaan hari Raya Galungan dan Kuningan. Pertunjukan Barong Kedingkling diiringi dengan gamelan batel atau babonangan (gamelan batel yang dilengkapi dengan reyong). Barong Kedingkling banyak terdapat di daerah Gianyar, Bangli dan Klungkung.

Minggu, 08 Mei 2016

Kisah singkat pura besakih

Kisah singkat pura besakih
Inilah asal mulanya ada Besakih, sebelum ada apa-apa hanya terdapat kayu-kayuan serta hutan belantara di tempat itu, demikian pula sebelum ada Segara Rupek (Selat Bali). Pulau Bali dan pulau Jawa dahulu masih menjadi satu dan belum dipisahkan oleh laut. Pulau itu panjang dan bernama Pulau Dawa. Di Jawa Timur yaitu di Gunung Rawang (sekarang dikenal dengan nama Gunung Raung) ada seorang Yogi atau pertapa yang bernama Resi Markandeya.
Beliau berasal dan Hindustan (India), oleh para pengiring-pengiringnya disebut Batara Giri Rawang karena kesucian rohani, kecakapan dan kebijaksanaannya (sakti sidhi ngucap). Pada mulanya Sang Yogi Markandeya bertapa di gunung Demulung, kemudian pindah ke gunung Hyang (konon gunung Hyang itu adalah DIYENG di Jawa Tengah yang berasal dan kata DI HYANG). Sekian lamanya beliau bertapa di sana, mendapat titah dari Hyang Widhi Wasa agar beliau dan para pengikutnya merabas hutan di pulau Dawa setelah selesai, agar tanah itu dibagi-bagikan kepada para pengikutnya.
Sang Yogi Markandeya melaksanakan titah itu dan segera berangkat ke arah timur bersama para pengiring-pengiringnya kurang lebih sejumlah 8000 orang. Setelah tiba di tempat yang dituju Sang Yogi Markandeya menyuruh semua para pengiringnya bekerja merabas hutan belantara, dilaksanakan sebagai mana mestinya.
Saat merabas hutan, banyak para pengiring Sang Yogi Markandeya yang sakit, lalu mati dan ada juga yang mati dimakan binatang buas, karena tidak didahului dengan upacara yadnya (bebanten / sesaji)
Kemudian perabasan hutan dihentikan dan Sang Yogi Markandeya kembali lagi ke tempat pertapaannya semula (Konon ke gunung Raung di Jawa Timur. Selama beberapa waktu Sang Yogi Markandeya tinggal di gunung Raung. Pada suatu hari yang dipandang baik (Dewasa Ayu) beliau kembali ingin melanjutkan perabasan hutan itu untuk pembukaan daerah baru, disertai oleh para resi dan pertapa yang akan diajak bersama-sama memohon wara nugraha kehadapan Hyang Widhi Wasa bagi keberhasilan pekerjaan ini. Kali ini para pengiringnya berjumlah 4000 orang yang berasal dan Desa Age (penduduk di kaki gunung Raung) dengan membawa alat-alat pertanian selengkapnya termasuk bibit-bibit yang akan ditanam di hutan yang akan dirabas itu. Setelah tiba di tempat yang dituju, Sang Yogi Markandeya segera melakukan tapa yoga semadi bersama-sama para yogi lainnya dan mempersembahkan upakara yadnya, yaitu Dewa Yadnya dan Buta Yadnya. Setelah upacara itu selesai, para pengikutnya disuruh bekerja melanjutkan perabasan hutan tersebut, menebang pohon-pohonan dan lain-lainnya mulai dan selatan ke utara. Karena dipandang sudah cukup banyak hutan yang dirabas, maka berkat asung wara nugraha Hyang Widhi Wasa, Sang Yogi Markandeya memerintahkan agar perabasan hutan, itu dihentikan dan beliau mulai mengadakan pembagian-pembagian tanah untuk para pengikut-pengikutnya masing-masing dijadikan sawah, tegal dan perumahan.
Di tempat di mana dimulai perabasan hutan itu Sang Yogi Markandeya menanam kendi (payuk) berisi air, juga Pancadatu yaitu berupa logam emas, perak, tembaga, besi dan perunggu disertai permata Mirah Adi (permata utama) dan upakara (bebanten / sesajen) selengkapnya diperciki tirta Pangentas (air suci). Tempat di mana sarana-sarana itu ditanam diberi nama BASUKI. Sejak saat itu para pengikut Sang Yogi Markandeya yang datang pada waktu-waktu berikutnya serta merabas hutan untuk pembukaan wilayah baru, tidak lagi ditimpa bencana sebagai mana yang pernah dialami dahulu. Demikianlah sedikit kutipan dari lontar Markandeya Purana tentang asal mula adanya desa dan pura Besakih yang seperti disebutkan terdahulu bernama Basuki dan dalam perkembangannya kemudian sampai hari ini bernama Besakih.
Mungkin berdasarkan pengalaman tersebut, dan juga berdasarkan apa yang tercantum dalam ajaran-ajaran agama Hindu tentang Panca Yadnya, sampai saat ini setiap kali umat Hindu akan membangun sesuatu bangunan baik rumah, warung, kantor-kantor sampai kepada pembangunan Pura, demikian pula memulai bekerja di sawah ataupun di perusahaan-perusahaan, terlebih dahulu mereka mengadakan upakara yadnya seperti Nasarin atau Mendem Dasar Bangunan. Setelah itu barulah pekerjaan dimulai, dengan pengharapan agar mendapatkan keberhasilan secara spiritual keagamaan Hindu di samping usaha-usaha yang dikerjakan dengan tenaga-tenaga fisik serta kecakapan atau keahlian yang mereka miliki. Selanjutnya memperhatikan isi lontar Markandeya Purana itu tadi dan dihubungkan pula dengan kenyataan-kenyataan yang dapat kita saksikan sehari-hari sampai saat ini tentang tata kehidupan masyarakat khususnya dalam hal pengaturan desa adat dan subak di persawahan. Oleh karena itu dapat kita simpulkan bahwa Besakih adalah tempat pertama para leluhur kita yang pindah dari gunung Raung di Jawa Timur mula-mula membangun suatu desa dan lapangan pekerjaan khususnya dalam bidang pertanian dan peternakan. Demikian pula mengembangkan ajaran-ajaran agama Hindu

Sabtu, 07 Mei 2016

Walter Spies

Walter Spies
Walter Spies dan Angelica Archipenko circa 1930
Walter Spies (lahir di Moskwa, 15 September 1895 – meninggal di Samudera Hindia, 19 Januari 1942 pada umur 46 tahun) merupakan pelukis, perupa, dan juga pemusik. Ia adalah tokoh di belakang modernisasi seni di Jawa dan Bali.
Spies lahir sebagai anak seorang peniaga kaya Jerman yang telah lama menetap di Moskwa. Semenjak muda ia telah menggemari seni musik, seni lukis, dan seni rupa. Ia mengenal Rachmaninov dan mengagumi Gauguin.
Selepas Perang Dunia I, Spies sempat tinggal beberapa lama di Jerman (di Berlin) dan berteman dengan sutradara ternama masa itu, Friedrich Murnau. Kelak, Murnau-lah yang banyak membantu Spies secara finansial di perantauan. Di Jerman ia sudah cukup ternama karena lukisan-lukisannya, namun ia merasa tidak kerasan karena sebagai homoseksual ia selalu dicari-cari polisi.
Pada tahun 1923 ia datang ke Jawa dan menetap pertama kali di Yogyakarta. Dia dipekerjakan oleh sultan Yogya sebagai pianis istana dan diminta membantu kegiatan seni keraton. Spies-lah yang pertama kali memperkenalkan notasi angka bagi gamelan di keraton Yogyakarta. Notasi ini kemudian dikembangkan di kraton-kraton lain dan digunakan hingga sekarang.
Setelah kontraknya selesai, ia lalu pindah ke Ubud, Bali, pada tahun 1927. Di sinilah ia menemukan tempat impiannya dan menetap hingga menjelang kematiannya. Di bawah perlindungan raja Ubud masa itu, Cokorda Gede Agung Sukawati, Spies banyak berkenalan dengan seniman lokal dan sangat terpengaruh oleh estetika seni Bali. Ia mengembangkan apa yang dikenal sebagai gaya lukisan Bali yang bercorak dekoratif. Dalam seni tari ia juga bekerja sama dengan seniman setempat, Limbak, memoles sendratari yang sekarang sangat populer di Bali, Kecak.
Sering kali dikatakan bahwa ia adalah orang yang pertama kali menarik perhatian tokoh-tokoh kesenian Eropa terhadap Bali. Ia memiliki jaringan perkenalan yang luas dan mencakup orang-orang ternama di Eropa. Sejumlah temannya banyak diundangnya ke Bali untuk melihat sendiri pulau kebanggaannya itu. Di bulan Desember 1938 Spies sempat dipenjara karena dituduh homoseksual. Ia baru dibebaskan karena bantuan beberapa temannya, di antaranya Margaret Mead, pada September 1939.
Perang Dunia Kedua membawanya pada nasib buruk. Sebagai orang Jerman, ia ditangkap pemerintah Hindia Belanda. Ia meninggal 19 Januari 1942 karena tenggelam bersama-sama dengan kapal 'Van Imhoff' yang ditumpanginya. Kapal dengan 477 tawanan dan 110 awak kapal itu tidak mempunyai ciri-ciri yang khas yang menandai bahwa kapal itu kapal yang membawa tahanan perang, sehingga diserang oleh armada Angkatan Laut Kekaisaran Jepang di perairan barat Sumatera Utara. Kapal yang seharusnya berlayar ke Srilanka itu mengangkut orang-orang Jerman yang diusir dari Hindia Belanda akibat serangan Jerman ke Belanda.

Antonio Blanco

Antonio Blanco

Don Antonio Maria Blanco circa 1980s
Antonio Maria Blanco (lahir di Manila, Filipina, 15 September 1912 – meninggal di Bali, Indonesia, 10 Desember 1999 pada umur 87 tahun) adalah seorang pelukis keturunan Spanyol dan Amerika. Antonio lahir di distrik Ermita di Manila, Filipina. Ia pada mulanya hidup dan bekerja di Florida dan California, Amerika Serikat, hingga pada suatu waktu hatinya tertarik untuk mengeksplorasi pulau-pulau di Samudra Pasifik sebagai sumber inspirasinya seperti pelukis Paul Gauguin, José Miguel Covarrubias dan yang lainnya sebelum dirinya. Ia berencana untuk pergi ke Tahiti, tapi nasib membawanya ke Hawaii, Jepang dan Kamboja, dimana ia menjadi tamu kehormatan Pangeran Norodom Sihanouk.
Dari Cambodia ia kemudian pergi ke Bali pada tahun 1952 dan menikahi seorang wanita model lukisannya dan seorang penari tradisional Bali bernama Ni Ronji pada tahun 1953. Bali memberikan Antonio elemen penting yang ia butuhkan untuk membangun hasrat seninya yang jenius: pemandangan yang indah, suasana lingkungan yang seperti impian, dan keberadaan seni dan cinta yang luar biasa.
Semenjak saat itu, Antonio tidak pernah meninggalkan mimpinya dan mulai mewujudkan mimpinya itu dalam hidup dan karya-karyanya. Ia membangun sebuah rumah tinggal plus museum di Ubud yang menjadi tempat istirahatnya yang penuh keajaiban. Bangunan tersebut dibangun berdasarkan citra dan kesukaannya dimana Antonio menjadi sangat betah tinggal di dalamnya dan sangat jarang keluar.
Tanah tempat dibangunnya tempat tinggal Antonio tersebut adalah tanah pemberian Raja Ubud dari Puri Saren Ubud, Tjokorda Gde Agung Sukawati.
Orang tidak akan bisa membicarakan Antonio Blanco tanpa berbicara mengenai wanita sebab wanita adalah fokus dari karya-karya lukisnya. Bisa dikatakan bahwa Antonio adalah seorang pelukis feminin abadi. Ia merupakan seorang maestro lukisan romantik-ekspresif.
Sepanjang kariernya, Antonio menerima berbagai penghargaan, termasuk diantaranya Tiffany Fellowship (penghargaan khusus dari The Society of Honolulu Artists), Chevalier du Sahametrai dari Cambodia, Society of Painters of Fine Art Quality dari Presiden Soekarno dan Prize of the Art Critique di Spanyol. Antonio juga menerima penghargaan Cruz de Caballero dari Raja Spanyol Juan Carlos I yang memberikannya hal untuk menyandang gelar "Don" di depan namanya.
Banyak kolektor yang menghargai karya-karya lukisnya, seperti aktris Ingrid Bergman, ratu telenovela Mexico Thalía (Ariadna Thalía Sodi Miranda), Soekarno (Presiden pertama Indonesia), Soeharto (Presiden kedua Indonesia), mantan Wakil Presiden Indonesia Adam Malik, Pangeran Norodom Sihanouk, Michael Jackson (penyanyi yang dijuluki Raja Pop Dunia yang sempat membubuhkan tanda-tangannya pada sebuah lukisan sebagai sebuah donasi untuk Children of the World Foundation), dan masih banyak lagi.
Keinginan Antonio untuk suatu hari nanti memiliki museum akhirnya mulai terwujud juga dan diberi nama The Blanco Renaissance Museum. Museum yang mulai dibangun pada 28 Desember 1998 di lingkungan kediamannya yang asri itu kini berdiri megah, menyimpan lebih dari 300 karya Antonio dan secara kronologis memperlihatkan pencapaian estetik dari Antonio muda hingga yang paling mutakhir. Secara arsitektural, bangunan museum yang berkesan rococo itu juga menawarkan filosofi dan kearifan Bali.
Don Antonio Maria Blanco meninggal dunia pada tanggal 10 Desember 1999 di Denpasar, Bali, akibat penyakit jantung dan ginjal yang dideritanya. Ia meninggalkan seorang istri dan empat orang anak: Cempaka, Mario, Orchid dan Mahadewi. Semenjak Antonio telah menjadi penganut Hindu, upacara persiapan kremasi ala Bali untuknya diadakan di sebuah rumah peristirahatan jenazah di Campuhan, Ubud, yang diikuti dengan rentetan upacara lainnya semenjak tanggal 23 Desember 1999. Peristiwa pembakaran mayatnya sendiri (Ngaben) baru terjadi pada tanggal 28 Desember 1999.