Sabtu, 21 Mei 2016

Tradisi megibung di Bali

Tradisi megibung di Bali
Setelah usai upacara adat, beberapa kelompok orang duduk bersila dan membentuk lingkaran. Di tengah lingkaran terhidang gundukan nasi beserta lauk pauk di atasdulang (alas makan dari tanah liat atau kayu) yang telah dilapisi tamas (anyaman daun kelapa). Namun sekarang acara megibung jarang menggunakan dulang, diganti dengan nampan atau wadah lain yang dialasi daun pisang atau kertas nasi. Mereka makan sesuap demi sesuap dengan tertib. Acara makan diselingi obrolan-obrolan ringan. Inilah budaya makan ala Karangasem, Bali, yang disebut megibung.
Arti Megibung adalah suatu proses atau kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat atau sekelompok orang duduk bersama  saling berbagi satu sama lain, terutama dalam hal makanan. Megibung merupakan tradisi makan bersama dalam satu wadah yang dimiliki oleh masyarakat Karangasem Bali, tradisi megibung atau makan bersama dalam satu wadah ini juga dikenal dengan sebutan Bancakan.Dalam tradisi unik megibung ini semua peserta berbaur tanpa memandang status sosial ataupun kasta. Megibung bukanlah upacara adat melainkan kebiasaan atau tradisi masyarakat di kabupaten Karangasem. Megibung dapat juga diartikan sebagai makan bersama.
Megibung  kini telah menjadi  tradisi turun- menurun yang dilaksanakan oleh warga karangasem. Megibung merupakan tradisi kuno warisan Kerajaan Karangasem, Bali. Tradisi ini diciptakan untuk meningkatkan rasa kebersamaan warga.
Tradisi megibung dimulai dari tahun 1614 Caka (atau 1692 Masehi), ketika salah satu Raja Karangasem, I Gusti Anglurah Ktut Karangasem, berperang menaklukkan kerajaan-kerajaan di Sasak (Lombok). Di kala para prajurit istirahat makan, beliau membuat aturan makan bersama dalam posisi melingkar dan sang raja pun ikut berbaur dengan para prajurit yang lain. Hingga saat ini tradisi megibung masih dilaksanakan di Karangasem dan Lombok, dan menjadi kebanggaan masyarakat setempat. Kini, megibung sering digelar berkaitan dengan berbagai jenis upacara adat dan agama (Hindu), seperti upacara potong gigi, otonan anak, pernikahan, ngaben, pemelaspasan, piodalan di Pura.
Megibung biasanya terdiri dari lebih dari satu sela, bahkan puluhan sela. Setiap sela dipimpin oleh pepara, orang yang dipercaya dan ditugasi menuangkan lauk-pauk di atas gundukan nasi secara bertahap. Setiap satu sela biasanya mendapatkan lauk pauk dan sayuran yang terdiri dari pepesan daging, urutan (sosis), sate oles (lemak), sate pusut (daging isi), sate pontang (sate isi dan lemak), lawar merah dan putih, sayur daun belimbing, pademara, timbungan (rawon) dan sayur urap.
Satu porsi nasi gibungan (nasi dan lauk pauk) yang dinikmati oleh satu kelompok disebut satu sela. Pada jaman dulu satu sela harus dinikmati oleh delapan orang. Kini satu sela bisa dinikmati oleh kurang dari delapan orang, seperti 4-7 orang. Ketika makan, masing-masing orang dalam satu sela harus mengikuti aturan-aturan tidak tertulis yang telah disepakati bersama.
Orang-orang yang megibung harus mengikuti tata tertib dan aturan makan yang ketat. Sebelum dimakan, nasi diambil dari nampan dengan cara dikepal memakai tangan. Kemudian dilanjutkan dengan mengambil daging dan lauk-pauk lainnya secara teratur. Sisa makanan dari mulut tidak boleh berceceran di atas nampan. Harus dibuang di atas sebidang kecil daun pisang yang telah disediakan untuk masing-masing orang. Air putih untuk minum disediakan di dalam kendi dari tanah liat. Untuk satu sela disediakan dua kendi. Minum air dilakukan dengan nyeret, air diteguk dari ujung kendi sehingga bibir tidak menyentuh kendi. Untuk kepraktisan, kini air kendi diganti dengan air mineral kemasan. Di beberapa tempat, selesai megibung biasanya dilanjutkan dengan acara minum tuak. Selesai makan, orang tidak boleh meninggalkan tempat tetapi menunggu orang atau sela lain menyelesaikan makannya secara bersama.
Persiapan untuk acara megibung ini untuk di Bali dikerjakan bersama secara gotong royong oleh warga banjar, tetangga atau undangan terdekat. Biasanya dikerjakan sejak sehari sebelum hari H. Dari menangkap babi atau ayam, diteruskan membuat bumbu, lanjut mengerjakan sampai selesai pada hari H tersebut. Yang dibuat jenis-jenis lauk pauk tersebut diantaranya: lawar barak (merah), lawar putih, kekomoh, padamara, kacang-kacang, marus, urutan, sate, timbung (rawon), balah dll. Satenya juga banyak macam seperti sate lembat, pusut, oles, pontang dan obob. Setelah seluruhnya selesai, diatur pada satu tempat gelaran (anyaman daun kelapa muda) sedemikian rupa lengkap segala jenis tersebut di atas serba sedikit untuk porsi 8 orang laki-laki atau 10 orang wanita. Jumlah satenya biasanya 15 sampai 20 tangkai. Satu gelaran atau satu porsi ini bernamakan KARANGAN. Ada juga diantaranya bertugas memasak nasi, nasi diatur menjadi gibungan. Gibungan dimaksud adalah nasi seberat satu kilogram diatur diatas gelaran, dialasi dengan nampan, nare atau baki, ada juga yang memakai dulang dimana pada pinggirnya  ditaruh garam atau sambal secukupnya. Pada hari H apabila segala persiapan telah selesai, mulai pukul sembilan acara megibung digelar, kadang kala kalau tamu banya acara ini digelar sampai 3 atau 4 periode, dimana satu periode samapai 20 sela (gibung/rombongan). Gibungan diatur penempatannya berbaris, dibedakan tempat untuk tamu wanita dan laki-laki. Di sebelah masing-masing gibungan tersebut juga disiapkan karangan, air cuci tangan, kendi tempat air minum. Demikianlah apabila personilnya telah lengkap masing-masing  para tamu dipersilahkan untuk cuci tangan lanjut bersantap. Salah seorang dari masing-masing sela tersebut bertugas sebagai tukang pepara (menaikan lauk ke atas gibungan). Demikianlah acara megibung ini berlangsung penuh disiplin. Para pengayah (peladen) yang membawa tambahan air, nasi dll sibuk meladeni para tamu yang sedang bersantap. Acara megibung ini berlangsung sekitar lima belas menit atau lebih. Apabila para tamu telah selesai santap (mereka biasanya bengong saling tunggu) maka tuan rumah atau yang mewakili mempersilahkan untuk cuci tangan lanjut bubaran. Mereka(para tamu) mencari tempat duduk di tempat lain untuk basa basi dengan tuan rumah akhirnya mohon ijin untuk pamitan. Sudah tentu tuan rumah menjawab dengan ucapan terima kasih serta mohon maaf atas segala kekhilafan dan kekurangannya
Aturan dalam Megibung :
1. Orang paling tua atau Tetua yang  bertugas membagikan makanan pada saat Megibung
2. Tidak boleh mengambil makanan orang di sebelah kita .
3. Jangan menjatuhkan sisa makanan kita makan di atas wadah Megibung .
4. Membagi lauk atau daging jangan menggunakan mulut .
5. Terdapat urutan dalam membagikan lauk pada saat Megibung seperti contoh sayur sebagai pembuka dan terakhir adalah sate.
Filosofi dari tradisi megibung
Satu gibungan dikitari oleh 8 orang dengan duduk bersila di setiap penjuru mata angin mengingatkan kita pada sembilan penjuru mata angin yaitu Utara, Timur Laut, Timur, Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat dan Barat Laut di tambah di tengah. Dalam ajaran Hindu kesembilan mata angin tersebut dijaga oleh para Dewata yang disebut Dewata Nawa Sanga menciptakan keseimbangan dan keharmonisan bhuana (dunia). Seperti apa yang tersurat dalam lontar Lebur Sanga menguraikan sebagai berikut: ada sembilan linggih para dewata yang disebut dewata nawa sanga yaitu di Utara (uttara) berstana Ida Bhatara Wisnu, di Timur (Purwa) berstana Ida Bhatara Iswara, di Selatan (Dhaksina) berstana Ida Bhatara Brahma, di Barat (Pascima) berstana Ida Bhatara Mahadewa, di Barat laut (Wayabiya) berstana Ida Bhatara Asankara, di Timur Laut (Ersaniya)  berstana Ida Bhatara Shambu, di Tenggara (Gneyan) berstana Ida Bhatara Maheswara, di Barat Daya (Neriti) berstana Ida Bhatara Ludra, sedangkan di Tengah berstana Ida Bhatara Siwa.
Acara megibung merupakan aktualisasi dan pengejawantahan dari filosopi di atas. Dalam hal ini manusia bukan bermaksud amada-mada dewata namun yang terpenting sebagai manusia harus selalu ingat dan meresapi filosopi dewata nawa sanga tersebut guna menciptakan keseimbangan hidup.
Dan yang lebih penting lagi bahwa megibung mengandung pendidikan moral bernilai tinggi seperti pendidikan etika, tata tertib, sopan santun, kesabaran, memupuk rasa kebersamaan dan kekeluargaan, salaing menghargai. Betapa tidak, apabila ada diantaranya yang mendahului cuci tangan, mendahului makan atau bangun tanpa mempedulikan yang lain, sudah dianggap tidak mengenal etika dan sopan santun. Demikian pula dari segi kebersamaan, kekeluargaan dan saling menghargai, hal ini akan dapat terpupuk dengan baik. Dalam satu sela (satu rombongan) makan megibung yang terdiri dari 8 orang yang bukan saudara, kadangkala tidak saling mengenal. Hal ini mungkin terjadi karena sama-sama menghadi satu undangan seseorang yang melaksanakan satu upacara atau agama. Perkenalanpun terjadi bahkan dilanjutkan dengan saling memaparkan pengalaman masing-masing secara sepintas sebagai basa-basi. Betapa tinggi nilai filosopi dan pendidikan budi pekerti yang dikandung dalam acara atau tradisi magibung tersebut.
Demikanlah sekelumit tentang tradisi megibung di Bali yang mengandung pendidikan moral dan etika yang perlu dilestarikan demi memperkaya khasanah budaya dan adat istiadat bangsa Indonesia. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar